Unholy Confession (Part 1)
8:30 PM
Ternyata baru sekarang lagi gue ada niat untuk ngurus blog. So,
hi it’s still me behind this post! I finally decided to write again. This blog
is legit 10 years old but I barely even come back here, I’m just surprised we still
have visitors. For those who stumbled upon this blog for whatever reason,
welcome! It’s really nothing much, I just happen to like writing sometimes even
though it’s a mess. So I thought it’s best to keep this blog??
I suck at picking titles for my own writing. This title itself is named after a song by Avenged Sevenfold hahahaha but I think it sounds cool so I proceed to use it as the title.
Jadi postingan kali ini gue buat karena akhir-akhir ini lagi
ngetren banget bahasan-bahasan tentang perebut laki orang alias pelakor. Kayaknya
sih tren ini hidup bersamaan dengan populernya K-drama “The World of The
Married”. Tahu kan drama itu? Walaupun gak nonton dramanya tapi gue yakin pasti
setidaknya temen-temen pernah dengar atau baca sekilas tentang drama itu. Jelas
lah ya, sekarang ini netizen lagi rajin-rajinnya memberikan support terhadap
Mbak Sun-woo, yaitu tokoh yang dikhianati oleh suaminya yang selingkuh dengan
perempuan lain. Sebaliknya, Mas Tae-oh (suaminya Mbak Sun-woo) dan Mbak Da-kyung,
tokoh pelakor yang cantiknya Masya Allah banget itu, udah habis
dimaki-maki sama netizen se-Indonesia. Jadi sekarang gue yakin istilah pelakor ini
udah gak asing lagi ya di telinga kita.
Lalu entah latah atau gimana, gue perhatikan jadi banyak
banget orang-orang yang sharing pengalaman tentang hubungan mereka yang kandas
karena hadirnya pelakor. Gue yang tiap hari buka internet ini kan juga jadi ikutan
kesel. Kenapa sih orang-orang itu tega banget selingkuh??? Kalau belum siap
berkomitmen ya mending gak usah memulai hubungan kan ya? Masalah
selingkuh-selingkuhan ini harusnya gak boleh dimaklumi, selingkuh itu salah
apapun alasannya.
Setelah puas ngomel-ngomel sendiri karena triggered oleh
cerita orang yang bahkan gak gue kenal, gue tenggalam di pikiran gue sendiri. Sambil
merenung, gue mikir, “padahal kan dulu gue pernah berniat ngerebut cowok
orang juga…”
Iya, gue pernah loh hampir jadi pelakor! Sinting kan? Emang
kurang ajar banget gue ini. Gue cuma berani menceritakan pengalaman busuk ini
ke temen-temen terdekat gue aja. Because I’m ashamed of myself!! Rasanya
pengen buang jauh-jauh aja ingatan gue tentang semua itu. Harga diri gue
tersakiti karena ulah gue sendiri. Gak ada bosannya gue memaki-maki diri sendiri
kalau mulai kepikiran tentang masa lalu gue itu.
Tapi untuk pertama kalinya, gue pengen menceritakan ini ke orang
lain selain temen-temen gue tadi. Akhir-akhir ini gue gelisah karena merasa masih
menutup-nutupi masa lalu gue ini. Long story short, I decided to write the
whole thing in here. Walaupun ini bisa dibilang buka aib sendiri, tapi gak
apa-apa yang penting gue bisa jadi lega karena semuanya tersalurkan. Besides,
I think it's the right time to post this since the term pelakor becomes
pretty huge haha. It’s a quite long story though, you don’t have to read it if
you think it’s gonna be tiring but feel free if you want to. Sebenarnya
cerita ini bisa lebih dipersingkat lagi sih, cuma emang guenya aja yang doyan
curhat.
Sebelum itu, gue pengen share artikel tentang “Indomie
Setengah” yang menurut gue bagus banget. Awalnya temen gue membagikan link artikel
ini ke gue sambil bilang, “Ila pernah jadi Indomie setengah.” Penasaran artinya
apa, gue baca lah artikelnya. Setelah baca gue kaget banget. Gak bisa berkata-kata,
cuma bisa ketawa kenceng sambil geleng-geleng kepala because I can relate to EVERY
WORD!! Bahkan Indomie Setengah sekarang jadi inside jokes di lingkaran
pertemanan gue. Artikel ini ada di Line dan di-publish oleh MOJOK. Silakan klik
di sini kalau temen-temen tertarik untuk baca. Artikel ini juga jadi salah satu
yang menginspirasi gue untuk akhirnya menuliskan cerita ini. Cuma versi gue ini
versi curhat banget lah istilahnya. Gak terlalu ada hubungannya sih, tapi semua
yang ditulis di artikel itu benar-benar persis menggambarkan perasaan gue di cerita
ini.
Ini gue cerita mendetail dan dari awal banget ya, dan
mungkin akan berantakan juga bahasanya. Gak tahu sih, gimana enaknya gue nulis
aja. I even had to open my old diary for reference to keep the story intact
and arranged in its original order. Perlu diingatkan juga kalau cerita ini
gak memenuhi aturan pengenalan-konflik-klimaks-resolusi-solusi seperti cerita
pada umumnya ya, jadi maaf kalau gak seru hehe. Yang jelas ini semua kisah
nyata. Semoga temen-temen yang baca tetap bisa paham.
This is my confession. This is the story of how I almost ruined
someone’s relationship.
***
Sebut aja nama cowok ini Nanda (nama disamarkan ya guys hehe).
Gue sama Nanda dulu satu sekolah waktu SMA, tapi kita gak pernah sekelas. Untuk
yang belum tahu, gue ini sebenarnya gak terlalu senang sekolah di SMA gue dulu
dikarenakan oleh beberapa alasan yang gak bisa gue jelasin di sini hehe. Karena
ketidaknyamanan itu jadinya lumayan susah bagi gue untuk cari temen dekat yang
klop banget buat diajak ngobrol. Tapi Nanda ini menurut gue beda, kita bisa
cepat banget akrab. Walaupun satu sekolah, gue dan Nanda awalnya gak kenal satu
sama lain, we were complete strangers. Sampai akhirnya kami baru
dipertemukan di tempat bimbel waktu kita naik kelas 12 (2014). Di sini lah kita
mulai saling kenal dan banyak ngobrol.
Suatu hari dia ada niat mau isengin gue dengan ngumpetin HP
gue di kantong celana dia. Perlu dicatat guys, waktu SMA itu gue ANSOS
MAKSIMAL. HP gue bukan tipe Android-based ataupun yang bisa download aplikasi buat
chattingan. Tahu Samsung Corby gak? HP gue dulu mirip Samsung Corby tapi versi
lebih kecil lagi, intinya HP jadul banget deh. Jadi kalau temen-temen gue mau
hubungin gue itu cuma bisa lewat SMS atau Twitter (gue aktif Twitter banget
haha). Gue dulu mana pernah yang namanya chattingan malem-malem sama temen-temen,
gak kenal tuh sama yang namanya Line atau WhatsApp. Ansos banget. Unlike my
friends, I never even once complained about how nobody messaged me for like 2
days. Karena emang gak pernah ada yang hubungin gue selain keluarga dan
temen yang nanyain PR. (LMAO POOR ME!!). Nah gue yang hampir gak
pernah inget sama HP ini mana sadar kalau ternyata HP gue diumpetin. Alhasil HP
gue gak sengaja kebawa pulang sama Nanda.
Sampai di rumah gue ditanya sama Ibu, “Teh, HP kamu
ketinggalan?”, and I confidently answered, “enggak kok orang ada di
tas.” Se-gak aware itu loh gue dulu sama HP sendiri. Terus ibu gue
bilang lagi, “lah itu temen kamu tadi SMS ke ibu kataya HP teteh ada di dia.
Siapa namanya ya? Nanda kalau gak salah.” You know what my reaction was?
“Oh, ya udah bilangin simpen dulu aja.” Boy, I seriously had no sense of
crisis back then. Terpaksalah HP gue harus menginap di rumah Nanda selama 2
malam, karena insiden ini kejadian di hari Sabtu dan kita baru bisa ketemu di
sekolah hari Senin (bahkan gue gak inisiatif untuk nyamperin ke rumahnya hari
Minggu atau apalah usaha sedikit gitu, gak sama sekali).
Akhirnya, di sekolah Nanda mampir ke kelas gue buat balikin
HP tapi dengan hinaan, “sedih banget lu anjir 2 hari gak ada yang SMS padahal
mau gue fudulin(1).” My forever alone ass didn’t take it as an insult because
I couldn’t understand where’s the sad part in it??? Hahaha anyway,
beberapa hari kemudian ada SMS masuk ke HP gue, yang mana itu adalah Nanda.
Ternyata dia nge-save nomor HP gue—and it also means he ran through my
contacts and probably my messages or other folders too, God knows what else.
Sejak hari itu, gue dan Nanda jadi sering SMS-an dan
curhat-curhatan. Bahkan sampai pada akhirnya gue punya iPod touch
(alhamdulillah) dan bisa download Line, kita selalu intens chattingan. Jadilah
gue makin akrab sama Nanda. Nanda ini baik dan seru banget orangnya, dan
kebetulan kita punya lumayan banyak kesamaan, walaupun sebagian besar gue lupa
apa aja haha. My diary says he likes Naruto, so that’s already a good enough
reason of why we became close in the first place.
Perasaan gue? Senang banget pastinya. Apalagi untuk gue yang
kesulitan cari teman baru di SMA, gue sesenang itu bisa punya teman seperti
Nanda. Yang biasanya selama ini gue ansos, setelah temenan sama Nanda gue jadi
punya temen ngobrol tiap malam. Dan siang juga sih, terus-menerus pokoknya. Walaupun
kita beda kelas kita tetep chattingan waktu jam pelajaran. Kadang kalau
sama-sama gak ada guru kita janjian ke kantin bareng dan ngobrol lama-lama di
sana. Di tempat bimbel kita ngobrol lagi, sampai jam les berakhir pun kita
hampir selalu mengulur-ngulur waktu pulang—rekor kita terekstrim adalah pulang
jam 10 malam—karena keasyikan ngobrol. Sampai di rumah kita chattingan lagi
sampai ketiduran. Begitu seterusnya sampai berjalan beberapa bulan.
Sepanjang hidup gue, Nanda ini orang pertama yang bikin gue
merasakan gimana rasanya dapetin good morning and goodnight text, gimana
rasanya curhat malam dan numpahin semua kekesalan di chatroom, gimana
rasanya “dicariin” kalau gue udah kelamaan gak bales chat-nya. It’s
mostly just basic things that you do in online socializing. Tapi gue
yang ansos banget ini benar-benar luluh dengan semua perhatian dari Nanda yang
sebelumnya gak pernah gue dapatkan. Call me prude, but I only learned how
“modern socializing” wokrs in my high school senior year, at the age 17, after
I knew him. And that was when I realized: having social life is fun!
(Yes, “having social life” was that simple to me back then. Forgive me for
setting the bar too low but can you really blame me though?)
IT SOUNDS SO DEPRESSING HAHAHA BUT I’M FINE REALLY!
Begitulah awalnya gue dan Nanda bisa berteman sangat dekat. Gue
yang tadinya gak pedulian banget sama HP, akhirnya jadi slightly obsessed
dengan muculnya suara-suara notifikasi chat masuk dari Nanda. Pikiran
gue cuma Nanda kemana, Nanda kok belum chat gue hari ini? Kita udah sedekat
itu. At some point we even exchanged flirty texts as a joke, we role played
as if we were girlfriend and boyfirend, we didn’t hesitate to tell each other
things like “I miss you” even though we barely stopped communicating. I was
already too comfortable with him that I often ignored the fact that: Nanda
has a girlfriend.
Betul guys, Nanda punya pacar yang waktu itu sudah
berjalan hampir 3 tahun. Pacarnya Nanda ini—kita sebut aja Ratu—tahu kalau Nanda
dekat sama gue, tapi gue gak kenal sama Ratu karena beda sekolah. Gue gak tahu
apa aja yang diceritain Nanda ke Ratu tentang gue, yang pastinya Ratu jelas gak
akan suka dengan itu.
Gue bukannya lupa kalau Nanda punya pacar. Selama kita
cerita-cerita, Nanda sering banget kok ngomongin Ratu. Tapi seolah-olah gue gak
tahu, gue dan Nanda tetap melanjutkan permainan pacar-pacaran yang berkedok
persahabatan ini dengan semua obrolan manis dan flirty texting-nya. Gue jelas gak merasa
bersalah dong, ini semua kan bercanda dan kita cuma sahabatan. Dalam
perspektif gue, Ratu tidak boleh cemburu!!! Dia gak boleh ngelarang-larang
Nanda punya sahabat perempuan lain!! Over-possessive itu namanya,
terlalu mengekang!! Pokoknya Ratu harus terima kalau gue “sahabatan” sama
Nanda!!
Gimana pada benci gak sama gue? It’s okay, I hate that
bitch too.
Ya, kita cuma sahabatan, tapi kita malam mingguan bareng.
Cuma sahabatan tapi teleponan sampai subuh. Cuma sahabatan tapi chat-nya
bilang sayang-sayangan—walaupun menurut kita ini bercanda. I can’t believe I
did that with someone else’s boyfriend haha I was a total jerk. Seriusan
separah itu kita. Tapi kita berdua masih sangat bersikeras bahwa ini semua
normal. No feelings involved, we’re just casual buddies.
Brengsek banget kan gue? Seperti itulah hubungan gue sama
Nanda, kesimpulannya: gak jelas banget kita ini apa. Waktu itu gue masih gak
menyadari kalau hubungan kita itu dilanjutkan, bisa bahaya jadinya. I don’t
even think I was sure of my feelings toward him. All I cared about was I felt so
happy that I found him.
Sampai pada akhirnya semua kebahagiaan itu tiba pada ujungnya.
Ini terjadi waktu gue teleponan sama dia jam 3 dini hari. Jadi gue
menemukan kutipan di diary gue tentang gimana detail percakapan gue sama Nanda
waktu itu. I didn’t even remember any of this until I opened my old diary
(thanks to myself in the past because I wrote everything, but dammit girl why
you gotta be so dumb wtf??). I’ll copy my own writing and put it here with zero
editing—except this guy’s name which isn’t actually Nanda. I’m so sorry it’s so
cringey… I was still in high school and I didn’t know any better???
***
“La, kita bakalan lama gak ya kaya gini?”
“Maksudnya?”
“Iya kita bakalan lama gak ya sahabatan? Apa cuma gini-gini
aja?”
“Gak tau tuh, apalagi nanti gue di Jakarta, lu di Bandung(2).”
“Iya ya makin jauh aja haha.”
Udah gitu
kita sama-sama hening. Lama. Mungkin sama-sama mikir, iya juga ya, kedepannya
kita bakal gimana. Gue gak kebayang kalau nanti gue sama Nanda bakal kaya temen
tapi stranger gitu, kalo ketemu di tempat umum cuma haii, sama siapa ke sini?
Oh gitu, duluan yaa. Gue mikir. Kalo sampe kaya gitu gimana ya? Padahal
sekarang kita lagi sedeket ini.
Dan akhirnya
gue nangis.
Gue nangis.
Sampai akhirnya Nanda memecah keheningan, gue masih nangis. Gue telponan sama
dia sambil nangis. Dia gak tau. Gue bersusah payah biar suara gue gak
kedengeran pecah.
***
GUE GELI BANGET BACANYA HAHA TOLONG. Intinya gue sadar gue
sama sekali gak mau kehilangan Nanda. Gimana ya, karena gue merasa belum pernah
diperlakukan seperti itu sebelumnya sama orang lain. I was so happy to be
with him even if I wasn’t his number 1. And that time, when I finally cried for
him, was the very first time I realized that I had deeply, unconsciously fallen
for him.
They say 3 AM talks are dangerous because it’s the time
when our mind starts to speak its true desires. Well, I guess it’s true?
Cerita ini akan berlanjut di part 2 ya guys, terima kasih udah baca sampai sini!
***
Keterangan:
(1)"Fudul" can be defined as
"stalking" or "running through someone's property without
permission". My friend told me that it's originally Arabic, but the word
is commonly known as local slang in Bogor.
(2)Maksudnya Jakarta dan Bandung itu adalah lokasi kampus impian kita waktu dulu. Gue pengen kuliah di UI, sedangkan Nanda pengen kuliah di Unpad.
0 comment(s)