Unholy Confession (Part 2)

12:11 AM


Hi guys it's me again! Sekali lagi, terima kasih sudah repot-repot lanjut baca cerita ini sampai ke part 2. Selamat membaca!

Who knows even a single phone call can change everything? Sejak percakapan jam 3 pagi itu, pertemanan kita tetap jalan, tapi perasaan gue kacau jadinya. I always had this slight tense feeling everytime he talked about his girlfriend. Jadi gini, walaupun gue sedekat itu sama Nanda, gak bisa dibohongi kalau gue benar-benar merasa Nanda itu sayang sekali sama Ratu. Karena itu gue selalu merasa insecure, dan semakin lama gue memendam, diam-diam gue semakin tersiksa. Bahkan waktu mereka ketemuan atau jalan bareng, si brengsek ini berani-beraninya ngambek sama Nanda. Padahal gue juga sadar bahwa gue ga mungkin nyalahin mereka. They have been together for 3 years for God’s sake I’m literally nobody.

Di sinilah puncak keegoisan gue terbentuk. Gue yang tadinya cuma berteman sama Nanda, suddenly I demand more. Gue benar-benar berpikiran kalau gue bisa memperlakukan Nanda lebih baik dari Ratu. Gue bisa menerima dia apa adanya. Gue punya banyak persamaan dengan Nanda, we could make a great couple. He made mistake choosing her over me, because I was better.

Man, I was an awful person I can’t even believe it myself. Walaupun hal-hal tersebut hanya ada dalam pikiran gue tanpa pernah gue ungkapkan ke siapapun termasuk Nanda, but still, what was I thinking?!?!? If Ratu ever find out about this, she will definitely hate me more for thinking so, and I deserve it.

Hal-hal gak menyenangkan lainnya pun makin sering terjadi. There was this one time when he finally “confessed” his feelings to me, and it was at about near midnight. I was shocked!!! We were just casually texting and then he suddenly confessed. I was crazy flustered and couldn’t think straight. But then I remembered that he already had Ratu, which is why I couldn’t confess my feelings back.

Gue bingung banget, ini gimana ceritanya dia punya pacar tapi tetap confess ke gue? That means it will make me a cheater?? Well, even though technically I had already become one hahaha. And it finally left me with no choice but to lie. I told him I didn’t feel the same thing and I believed it was for the best.

But you know what the crazy part is? IT TURNED OUT TO BE AN APRIL FOOL’S PRANK.

Jadi dia sengaja “confess” ke gue sebelum tengah malam di akhir Maret, supaya nanti tepat jam 00:00 dia bisa langsung bilang April Mop. Believe me I wasn’t mad, I was just… speechless. And to think that I had to deal with this feeling alone since he only pranked me shatters my heart to the core. I wasn’t mad but I was definitely hurt. But I tried to laugh it off because what else could I do??

Sakit banget ini kalau di inget-inget haha but don’t feel sorry for me because remember! I’m the bad guy in this story.

I think he noticed that I took the prank quite hard, karena besoknya waktu di sekolah dia minta maaf terus-menerus sama gue, walaupun sambil ngeledekin juga. Terus gue pura-pura marah aja. Sampai di rumah ternyata dalam tas gue ada tempat bekel dari Nanda dan isinya sushi. Turned out he cooked for me as a sign of apology. Akhirnya kita baikan lagi.

Tapi setelah hari itu pertemanan kita jadi semakin aneh (as if it wasn’t strange enough already). Gue mendapati Nanda beberapa kali mengulang kata-kata sakral “I love you” di tengah-tengah obrolan kita. Tapi atas dasar apa gue harus percaya sama dia setelah dia pulling out that April Fool’s prank? Gue gak paham juga apakah itu serius atau enggak. A friend of mine later assumed that he actually meant it but he was afraid if I would turn him down, so he pulled the prank card on me. Tapi gue tetep gak tahu kenyataannya gimana dan udah gak mau memikirkan lagi juga. Seperti itulah, tiba-tiba semuanya jadi gak seru lagi. But regardless, my feelings toward him had not changed at all.

Gue yang udah paham situasinya telanjur fucked up begini, akhirnya cerita ke sahabat-sahabat gue yang lain soal gimana sebenarnya gue sama Nanda. Ternyata gak ada satupun dari mereka yang mendukung gue! Hahaha mereka jauh lebih dewasa dari gue rupanya. Ya, tentunya si brengsek ini gak nurut lah sama nasehat sahabat-sahabatnya dan tetap ngotot perjuangkan Nanda. Gak tahu diri banget kan?

Pertemanan yang gak sehat ini terus berlanjut bahkan sampai kita terpisah ke kota yang berbeda waktu masuk kuliah—gue di Depok dan Nanda di Purwokerto. Tapi dari sini komunikasi kita mulai terbatas banget karena sama-sama sibuk, chattingan jadi jarang, apalagi teleponan. Hubungan kita mulai merenggang. Awalnya gue sering uring-uringan sendiri hahaha! Tapi lama-lama gue terbiasa, udah mulai betah juga di kampus jadi gak terlalu sering kepikiran. Selain itu juga, entah perasaan gue aja atau gimana, Nanda mulai mengurangi kebiasaan flirting sambil bercandanya. Intinya setelah masuk kuliah kita semakin jarang komunikasi.

Tanpa sadar, perasaan gue terhadap Nanda ikut memudar juga. Pelan-pelan gue mulai bisa berpikir lurus, yang gue lakukan sama Nanda selama ini perbuatan bijak gak sih? Apakah normal kalau kita temenan sampai segininya? Kok bisa-bisanya gue gak memikirkan perasaan Ratu? Terus waktu liburan semester dan kita sama-sama pulang ke Bogor, gue jadi ragu untuk menyetujui ajakan Nanda buat ketemuan. Tiba-tiba gue merasa janggal dan aneh aja. We shouldn’t be doing this… this whole “friendship” thing was a huge mistake!!!

Gue seperti baru ditampar sama semesta. Yang gue lakukan selama ini kurang ajar banget astaga! I tried to steal someone’s boyfriend?? Wtf?? I can’t even understand why it took so long for me to wake up. Gue dulu bodoh sekali haha. Just like that, akhirnya gue sadar secara tiba-tiba. Pada saat itu juga gue janji gue akan mulai menjaga jarak sama Nanda (walaupun udah telat ya), gak perlu chat kalau gak penting-penting amat, dan gue janji akan menghargai hubungannya Nanda dan Ratu.

Not long after that, I found out that Nanda blocked me on his phone. Jujur waktu pertama kali tahu kalau dia nge-block gue, gue kesel banget! Padahal gue udah buat komitmen bahwa gue gak akan hubungin Nanda kalau gak penting-penting amat, tapi dia malah nge-block gue as if he’s assuming that I will try to reach him anyway. Hahaha maaf aneh banget alasan keselnya gue. Tapi kesel-keselan itu gak berlangsung lama, akhirnya gue pun paham. Artinya gak cuma gue aja yang berusaha menjaga jarak, ternyata Nanda juga berpikiran hal yang sama.

Begitulah, persahabatan gue dan Nanda berakhir antiklimaks. Setelah itu kita sama sekali gak mengontak satu sama lain selama 2 tahun.

Tahun 2018, posisinya ini waktu gue baru selesai semester ke-6 kuliah, gue dikagetkan dengan masuknya chat dari Nanda lagi. He no longer blocked me, apparently. Tapi gue kaget, Nanda yang udah nge-block gue selama 2 tahun ini ngapain ngehubungin gue lagi? I thought we were over? Terus dia langsung telepon. Gue sempat ragu juga untuk angkat, tapi akhirnya gue angkat karena penasaran.

Awalnya kita cuma catching up dan basa-basi, cerita gimana perkembangan kuliah dan kesibukan masing-masing. I learned that we both employed in part-time jobs, he started a business selling street food with his friends, while I teach students. We even reminisced our lives in high school. It was quite fun talking to an old friend, because it reminded me of how fun it was back then when we were friends.

I mean, it would’ve been fun if I hadn’t fallen for him and tried to steal him from his girlfriend….

Tapi pada akhirnya dia membuka obrolan serius. “Lu tahu gak La, kenapa gue nge-block lu sampe lama?” he said. Ternyata dia ngaku bahwa dia lakukan itu karena dia merasa hubungannya dengan Ratu jadi gak sehat. Di situ gue merasa benar-benar menyesal. See, what have you done Ila???? Hubungan mereka jadi rusak hahaha. Walaupun mereka gak sampai putus, tetap aja gue pernah jadi parasit, dan sampai kapanpun gue akan menyesal akan hal tersebut.

Akhirnya gue settle things up sama Nanda malam itu juga. Gue bilang kalau apa yang kita lakukan waktu dulu itu keterlaluan, dan Ratu berhak marah atas hal itu. Nanda pun setuju dengan perkataan gue, dia menyadari kalau pertemanan kita memang gak normal. Perasaan gue lega banget waktu Nanda bilang gitu. Berarti kita sama-sama mengakui dan sadar kalau kita itu jahat sama Ratu. Kita juga sekarang paham kalau temenan itu harus tahu batasan. Setelah dirasa semuanya sudah jelas, we ended that phone call. I texted him afterwards, “tell your girlfriend I’m sending my deepest apology, I owe her a huge one.”

I sent that text in hope that it could bring closure for the 3 of us.

***

Sampai sekarang, gue kadang masih suka kepikiran kenapa gue dulu bisa setega itu ya. Gue gak pernah menempatkan diri gue di posisinya Ratu, gue terlalu fokus berusaha merebut perhatian Nanda. Walaupun gue gak sampai benar-benar hancurin hubungan mereka, but still, at one moment I really thought of sabotaging their relationship! Doesn’t that mean I once shared the same braincells with those pelakor? Sinting banget gue. Gue benar-benar malu banget untuk mengingat kejadian ini lagi, kayak, gue gak ada harganya banget deketin pacar orang astaga.

Sampai sekarang juga gue masih belum pernah mengakui ini semua ke Nanda, dan gue gak tahu Nanda itu menganggap gue sebagai apa sebenarnya. Tapi itu semua udah gak penting lagi untuk dibahas. Gue yakin Nanda udah jadi pribadi yang lebih baik sekarang. Dan soal Ratu, gue masih gak kenal sama dia but she has every right to hate me. Gue nyesel banget jadi orang jahat. Tapi mau semenyesal apapun gue, ini semua udah terjadi. Setidaknya gue bisa jadikan ini semua pelajaran buat diri gue sendiri dan juga buat temen-temen yang baca postingan ini.

From what I learned, Nanda and Ratu are still together to this very day. Berarti tahun ini hubungan mereka udah berjalan 8 tahun. Gue bersyukur mereka masih pacaran, karena gue akan lebih menyesal lagi kalau dulu mereka putus gara-gara gue yang brengsek ini. Good thing they didn’t. Gue dan Nanda pun setelah itu cuma menghubungi satu sama lain sesekali aja. Pernah kita ketemuan satu kali tapi bareng temen-temen gue yang lain juga. Bahkan sejak gue lulus kuliah sampai sekarang inipun kita gak kontakan sama sekali. Tapi sejujurnya gue lebih suka kalau gue dan Nanda gak kontakan dulu, karena setiap gue kontakan sama Nanda I feel like a bad person all over again.

Sekarang malah sebaliknya, gue jadi gak respect sama sekali dengan apapun yang berbau pengkhianatan dalam hubungan.

In the series The World of The Married, Lee Tae-Oh said, “it’s not a crime to fall in love.” Well, it’s true. It only becomes a crime when you use the love to abuse someone’s happiness. Apalagi kalau berkedok persahabatan kayak kasus gue ke Nanda ini. Persahabatan itu sesuatu yang baik guys, jangan sampai kita menyalahgunakan persahabatan ini untuk memuaskan ego semata ya.

Speaking of which, sebenarnya laki-laki dan perempuan itu bisa gak sih bersahabat?

Jawabannya: Tentu bisa! Bukan mustahil kalau persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu terjadi, dan mungkin di lingkungan kita udah banyak contohnya kan? Tapi ingat, bukan mustahil juga kalau suatu saat persahabatan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih. Karena seperti kata orang-orang, cinta itu datang karena terbiasa dan didasari atas rasa nyaman satu sama lain. Tapi tenang aja, gak semua persahabatan lawan jenis itu berujung baper kok. Itu semua tergantung sama individu masing-masing, apakah kita melibatkan perasaan atau enggak dalam persahabatan itu. Yang jelas, jangan kayak gue ke Nanda yang ngakunya sahabatan tapi sebenarnya baper.

Gue gak tahu gimana jadinya kalau Nanda atau Ratu baca postingan ini HAHAHA!! Gue bakalan maluuuu banget pastinya. Walaupun namanya disamarkan mereka pasti tahu tulisan ini tentang mereka. Semoga mereka gak menemukan postingan ini ya. But if somehow, in any case, they do find this post, I would like to say:

  1. Please pretend that you never do, because I’m ashamed of my past behavior and I don’t think I can handle it if I have to face both of you.
  2. Untuk Nanda, yes, I was in love with you once hahahahaha there I said it!! Sorry it took so long because I’m a fucking coward. I wonder if you ever noticed? But don’t worry, all of my feelings have long gone and we're cool now. I guess we’re still friends but for now, let’s not engage in any kind of socialization just yet. Because as I stated above, I can’t bear the feeling of being a bad person between you two. I’m sorry for causing you much trouble.
  3. Untuk Ratu, damn, I’m not even talking to you in person but I still feel awkward. We don’t know each other but I believe you recognize me. I know this won’t change the things I’ve done in the past but, among all the people in this world, I owe you the biggest apology. I wish I could make it up to you somehow? Trust me I understand if you want to stay mad at me, I would’ve too. If you read this, I’m totally aware that a sorry would never be enough, but still, I’m really sorry for everything. It’s too late for me to realize but I promise I’ll be a better person.


I think that’s all I have to say!! Sebagai penutup, gue, selaku orang yang pernah merasakan (hampir) menjadi so-called pelakor ini, juga ingin berpesan untuk semua orang yang sekarang sedang ada di posisi gue ataupun Nanda.

Kalau kalian merasa seperti Nanda, coba pikir lagi, apakah pasangan kalian akan senang kalau kalian bersikap seperti Nanda? Dengan kalian menjalin hubungan sama pasangan kalian, itu berarti kalian udah berkomitmen untuk jaga perasaan mereka juga. Pasangan dan sahabat itu sama-sama penting, tapi tolong bijak untuk membedakan sikap terhadap pasangan dan sahabat. Kalau masih belum bisa seperti itu, lebih baik jangan punya pasangan dulu.

Kalau kalian merasa ada di posisi gue dalam cerita ini, hehe, gue mau tanya memangnya alasan kalian apa sampai-sampai tega harus merusak hubungan orang? Is it because you love them? Gue paham betul perasaan kalian gimana. Tapi sayangnya, perasaan kalian itu gak bisa dijadikan pembenaran untuk sembarangan hancurin hubungan orang lain. Coba pikirkan gimana kalau kalian ada di pihak yang hubungannya dirusak, wouldn’t it hurt? If you don’t want to do it for the sake of other people, then at least do it for yourself. Be a bigger person, give yourself some respect, and stop hurting your pride. Because at the end of the day, you will find your true happiness when you manage to respact other people’s happiness. And stepping between someone’s relationship is never the answer.

Terakhir, terima kasih banyak buat teman-teman yang menyempatkan baca cerita gue even though it’s written in excruciating details. Maaf ya ceritanya gak seru nih antiklimaks. Harap maklum karena ini semua kisah nyata tanpa rekayasa, and as we know, the story in real life isn’t as interesting as the one in the movies. Silakan diambil yang baik-baiknya aja ya, yang sampahnya gue mohon jangan ditiru. Semoga bisa dijadikan pelajaran bagi temen-temen yang baca dan bisa memotivasi temen-temen untuk jadi orang yang lebih baik lagi. It costs 0.00 to be a good person. Jangan lupa bahagia!

Sampai jumpa di post berikutnya!
Mufidaht

You Might Also Like

0 comment(s)